Perayaan Misa Arwah bagi keselamatan jiwa-jiwa orang beriman yang diselenggarakan di Aula Kolumbarium Oasis Lestari menjadi momen refleksi iman yang mendalam bagi seluruh umat yang hadir. Misa ini menghadirkan perenungan akan misteri kematian dan harapan akan kebangkitan. Dalam suasana yang khidmat, perayaan liturgis ini mengingatkan kembali bahwa kerinduan terbesar manusia adalah bersatu kembali dengan Sang Pencipta melalui rahmat penyelamatan Kristus.
Memasuki bagian homili, Romo menguraikan warta Kitab Suci yang menjadi tuntunan bagi umat. Bacaan Pertama mengutip Kitab Ayub (Ayb 42:1-3, 5-6, 12-17), yang mengisahkan kepasrahan Ayub dalam mengenali keagungan Tuhan di tengah penderitaan dan kehilangan. Pengalaman iman Ayub menegaskan bahwa pengenalan akan Allah tidak sekadar berdasar pada tutur kata, melainkan melalui perjumpaan batin yang mentransformasi hidup, hingga akhirnya Tuhan memulihkan dan memberkati kehidupan Ayub.
Sementara itu, Warta Injil yang dibawakan berdasar pada Injil Lukas (Luk 10:17-24), di mana Yesus mengingatkan para murid agar tidak hanya bersukacita karena kuasa-kuasa di dunia atau roh-roh jahat yang takluk, melainkan karena nama mereka telah terdaftar di surga. Romo menegaskan bahwa sukacita sejati seorang beriman terletak pada jaminan keselamatan dan persekutuan kekal bersama Allah, yang diajarkan Kristus kepada orang-orang yang berhati lembut dan bersahaja.
Dalam perenungan khotbahnya, Romo mengajak umat untuk melihat peristiwa kematian bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai peralihan menuju kehidupan kekal. Doa-doa yang dipanjatkan oleh keluarga dan umat yang masih hidup bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal merupakan wujud nyata ikatan kasih (communio sanctorum) yang tidak terputus oleh maut. Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, setiap jiwa diberi harapan untuk dimurnikan dan disambut dalam kediaman abadi.
Romo menuturkan pesan penguat bagi para peziarah di dunia agar senantiasa menjaga kesetiaan iman, pengharapan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengenang dan mendoakan para leluhur serta sanak saudara yang telah mendahului, umat diajak untuk semakin menyadari peziarahan hidup mereka sendiri. Kesadaran ini mendorong setiap insan untuk senantiasa mengarahkan pandangan pada janji keselamatan Kristus, sehingga nama setiap orang beriman pantas terukir di dalam Kerajaan Surga.
"Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan peralihan menuju kehidupan kekal di mana doa-doa kita menjadi wujud nyata ikatan kasih yang tak terputus oleh maut."